WELCOME TO THE KMC (KINDERGARTEN MOMMIES CLUB)


Yup, itulah yang saya alami. Yeayyy, si sulung sudah  masuk TK A. Bangga rasanya ketika melihat anak sudah memakai seragam. Dan tibalah hari pertama.. masuk 7.30 -10 sebagai minggu perkenalan awal. Si Sulung sepertinya enjoy dan senang dengan teman. Tapi ketika saya jemput jam 10, ternyata anak sudah menangis Bombay. Informasi dari wali kelas, si sulung sudah menangis hamper setengah jam. Ketika saya tanya kenapa menangis, dia bilang “Kangen Mama…”. Yahhhhhhhh…. Keesokan harinya, ketika berbaris didalam didepan kelas, si sulung tak mau melepaskan tangan saya dan mulai menangis, tidak mau masuk kelas dan minta ditemenin mamanya. Saya coba berbicara untuk menenangkan si sulung agar berhenti menangis, dan tak mempan. Wali kelas menyarankan saya mengantar si sulung ke dalam kelas dan menemaninya sekitas 5-10 menit lalu meninggalkannya. Ketika saya meninggalkan si sulung, dia mulai menangis dan membuat 4 anak lain menangis dan memanggil mamanya. WOW, simponi tangisan, saya jadi tak enak dengan 2 wali kelas TK A. Saya jadi dilemma, namun petugas kantor mengatakan bahwa hal tersebut menjadi tugas wali kelas untuk membuat anak merasa nyaman di kelas dan tangis mereda. Tangisan dan rengekan tidak mau ditinggal mama berlangsung seminggu. Dan itu cukup membuat saya tertekan. Apa salah ya.. keputusan saya memasukkan anak usia 4,5 tahun ke TK A? Ataukah si sulung tidak masuk dulu agar tidak menangis lagi? Atau ada langkah lain? ..
Saya mencari support dari beberapa teman yang mempunyai anak sebaya, dan ternyata hal itu juga kadang terjadi. Saya disarankan untuk tetap membawa anak ke sekolah dan bersabar dengan tabiat itu. Ketika berdiskusi dengan wali kelas, ternyata hal tersebut memang sering dilakukan anak. Saya disarankan untuk membatasi ucapan dan kontak ketika si sulung mau masuk kelas, dan menghentikan negoisasi/ bujukan pada si sulung. Untunglah, drama tangisan itu hanya berlangsung seminggu. Tapi minggu berikutnya, si sulung minta tetap ditunggu hingga ia masuk ke dalam kelas.
Mencoba membaca buku psikologi perkembangan (Baraja, 2008), perkembangan individu pada usia 4-6 tahun memasuki tahap Perseptual, dimana anak sudah mampu memberikan tanggapan atas dunia luar dirinya, anak telah membentuk dirinya pada differensisasi (mampu membedakan antara dirinya dan orang lain). Kemampuan ini membuat anak berusaha menanggapi segala sesuatu yang dilihat, dirasakan dan dilakukan. Tanggapan anak umumnya berupa pertanyaan, perhatian dan tingkah laku yang berbeda dari yang biasa ia lakukan. Pada tahap ini, saya berasumsi bahwa si sulung merasa asing dengan lingkungan sekitar, dan merasa tidak teman. Si sulung merasa nyaman dan aman bila saya berada di dekatnya.
Setelah satu bulan mengamati perkembangan si sulung, nampaknya dia sudah mulai bisa bersosialisasi dengan teman sekelas, walau kadang belum bisa mengatur emosi ketika ada teman yang bersikap tak sesuai keinginannya. Menurut Baraja (2008), perkembangan emosional pada usia 4-5 tahun, seharusnya lebih siap untuk mengikuti peraturan, dapat ditinggal pergi oleh orang tuanya, tanpa menangis, ingin menenangkan teman atau ingin bersama dengan teman,  dapat membedakan antara khayalan dan kenyataan, murung dan gelisah saat menghadap masalah dan kadang keras kepala dan sangat menuntut.
Selama 1 bulan, TK tempat sempat si sulung  bermain dan belajar, mulai membuka les aktivitas maupun pembelajaran. English (2x seminggu), Lukis, Pianika, Balet dan Wushu. Diluar itu, banyak orang tua meminta guru memberikan Les menulis, membaca dan berhitung. Ada banyak alasan orang tua memberikan les, yaitu: karena orang tua bekerja, menjaga toko HP, atau karena tes masuk SD yang mengharuskan anak sudah bisa CALISTUS (Membaca, Menulis, Berhitung) yang telah diadakan 8 bulan sebelumnya. WOW!!. Saya sendiri sudah mulai resah, karena anak saya tidak mau mengikuti semua aktivitas yang ditawarkan sekolah. Sebenarnya  untung sih, tidak ada pengeluran tambahan. Tapi, kadang sebagai orangtua, ikut euphoria komunitas. Tapi setelah saya pikirkan lagi, jenjang pendidikan anak masih 19 tahun lagi ke depan. Masih banyak waktu untuk memberikan les, jika memang itu dibutuhkan. Biarlah anak saya BERMAIN dulu bersama teman sambil belajar. Seperti tujuan utama saya, agar anak belajar bersosialisasi, karena situasi 2 tahun belakangan, si sulung tidak dapat bersosialisasi dengan anak sebaya karena tidak ada tetangga dengan usia sebaya. Kemampuan si sulung yang sudah bisa membaca, merupakan salah satu achievement bagi saya, meskipun kemampuan menulisnya belum rapi.
Melihat psikologi perkembangan (Baraja, 2008), perkembangan intelektual usia 4-5 tahun ditandai dengan: dapat menggunakan sendok dan garpu; dapat membaca huruf dengan mengeja; memahami konsep waktu dengan lebih baik; memahami konsep berhitung dengan  lebih baik; melakukan permainan kartu atau dengan papan. Dilihat dari indikator ini, saya merasa, anak saya telah berada di jalur yang benar. Semoga saya tidak menjadi terlalu menuntut pada anak menurut standar dewasa. Love you kid! Muach

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "WELCOME TO THE KMC (KINDERGARTEN MOMMIES CLUB)"