SAPIH atau menyapih atau menyarak
(menghentikan anak menyusu) menurut KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia), tentu
istilah yang taka sing bagi seorang ibu. Anak saya sudah 1 tahun 8 bulan, dan
masih menyusu ASI. Namun 1 bulan ini, sikecil tidak mau makan sama sekali.
Hanya 2 suap ruas jempol tangan saya yang masuk, namun tiada berhenti menyusu
ASI langsung (tidak dalam botol). Saya sudah coba variasi makanan, mulai dari
nasi, havermuth/ oatmeal, mie skotel, bihun, kentang keju. Tak berhasil satu
pun. Alhasil, secara visual tampilan anak menyusut dan penurunan berat badan/
masa otot si kecil, mulai saya rasakan. Akhirnya saya ambil keputusan sudah
saatnya menyapih. Banyak rekomendasi menyarankan “weaning with love”. Hal itu
tidak sempat saya lakukan dengan si kecil.
Usaha menyapih mulai dengan
mengoleskan aneka bumbu dapur ke payudara saya. Dimulai dengan kencur, anak
saya tak bergeming. Saya coba dengan jahe, walau panas, tapi menyusu tetap
dilanjutkan. Coba membeli brotowali dipenjual jamu, ternyata hanya berhenti
sebentar (1 menit) karena mulut terasa pahit, kemudian menyusu tetap berlanjut… Teringat cerita ibu
mertua yang mengoleskan lipstick ke payudara karena ayah si kecil juga tidak
mempan dengan aneka bumbu dapur ketika dari disapih. Akhirnya dengan
mengoleskan lipstick, anak saya takut dan langsung tak mau menyusu. Efek
psikologis yang saya lihat, adalah anak jadi lebih rewel kalo mau tidur dan
menolak untuk saya pegang. Untung masih ada ibu saya yang memang membantu
mengasuh anak anak. Secara fisik, saya terbantu dengan kondisi tersebut. Tapi
secara psikologis, saya juga merasa kehilangan, karena momen yang hanya saya
miliki dengan si kecil sudah hilang. Saya jadi merasa tak berguna, terasing
dari anak, dan tak punya ikatan/ dicari oleh anak… mellow ya… yah beginilah
rasanya. Jadi, nikmatilah efek menyapih ini…
0 Response to "MENYAPIH, DILEMA?"
Posting Komentar